Aku terbangun dari tidurku, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Keringat membasahi wajahku. Peluh membanjiri tubuhku hingga membuat piamaku pun terasa lengket dibadanku. Aku merasakan seolah-olah habis melakukan lari marathon. Aku sangat lelah, lelah dengan semua keadaan ini. Mimpi itu selalu hadir ditiap malamku. Kenapa ada rasa sakit didadaku, seakan hatiku dipaksa lepas dari rongga dadaku. Menyisakan lubang tanpa dasar.
Dia, entah siapa lelaki itu, yang selalu hadir ditiap mimpiku. Aku tidak bisa mengingatnya, aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi aku bisa merasakan, aku merindukannya teramat sangat. Hingga rasanya hati ini sakit, karena aku tidak tahu siapa dan dimana dia.
Kenapa aku merindukannya. Apakah aku mengenalnya, apakah dia bagian dari masalaluku. Terimakasih pada memoriku yang lemah, kenapa aku tidak bisa mengingat apapun tentang lelaki yang selalu hadir dimimpiku itu.
Apa aku pernah mengalami kecelakaan, kepalaku terbentur benda keras. Lalu dokter mengatakan aku terkena amnesia parsial. Tapi kalaupun benar begitu kenapa tidak ada satu orangpun dirumah ini yang mengatakan begitu.
Alarm jam weker diatas meja disamping tempat tidurku membuyarkan lamunanku. Kulirik benda kecil itu, jam 4 pagi. Aku ingat hari ini aku dan keluargaku akan ke Bandung. Karena kakak sepupuku hari ini akan melangsungkan pernikahannya. Aku harus segera mandi dan bersiap-siap. Kalau tidak mau mendengar ceramah pagi dari mama. Yang pastinya akan membuat keluargaku tambah telat berangkat ke Bandung. Karena kalau mama sudah mengomeliku, maka semua kata pemali ini itu akan keluar dari mulutnya. Ya, aku harus segera kekamar mandi. Aku harus melupakan mimpi-mimpi itu untuk saat ini.
* * * * *
Aku baru saja keluar dari toilet. Samar-samar aku mendengar dari arah panggung disudut gedung ini. Gedung serba guna yang dijadikan tempat resepsi pernikahan kakak sepupuku.
Somebody wants you
Somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breath without you, it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That Somebody's Me (*)
Lagu itu, lagu yang sama dengan ringtone ponselku. Lagu yang entah sejak kapan menjadi lagu yang seolah-olah mewakili perasaanku. Perasaan merindu pada seseorang yang tak kuketahui siapa.
“Shasta, disini kamu rupanya.” suara tante Nina menghentikan langkahku. Saat aku ingin mencari tahu siapa yang bernyanyi diatas panggung sana.
“Tante Nina, aku habis dari toilet. Tante nyari aku?”
“Sini ikut tante, ada yang mau tante kenalin sama kamu.” tante Nina adalah kakak mamaku. Yang juga ibu bang Evan, kakak sepupuku yang hari ini menikah. Tante Nina terus menarik tanganku setengah menyeretku menuju tempat pelaminan. Dimana bang Evan sedang duduk bersanding dengan gadis idamannya, kak Manda.
“Kita mau kemana tante. Jangan tarik-tarik tangan Shasta, malu tante banyak tamu.” aku menunjukan protes. Mataku melirik kiri dan kanan, banyak mata menatapku heran.
“Enggak apa-apa biarin aja.” tante Nina tidak menggubris aksi protesku. Malah terus menarik tanganku agar aku mengikutinya.
Sesampainya dipelaminan.
“Van, mana temanmu yang barusan nyanyi dipanggung. Mama pengen kenalin dia sama Shasta, kali aja mereka berjodoh.” tante Nina terkekeh.
“Ya ampun tante, malu-maluin deh.” aku mendengus kesal dan menundukan wajah, menyembunyikan rasa malu.
“Haha...Mama ada-ada aja, kalau yang mama maksud Si Radith, dia udah pulang ma. Dan kalau mama bermaksud mau menjodohkan Radith sama Shasta.” bang Evan menggantung ucapannya, matanya terlihat menerawang sekilas. Terdengar bang Evan menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. “Sayang sekali ma, Radith sudah mencintai gadis lain.”
Mendengar ucapan bang Evan barusan. Tanpa aku sadari, aku sudah mencengkeram erat tangan kursi pelaminan disampingku. Tiga kata terakhir ucapan bang Evan serasa menohok jantungku. Entah apa yang terjadi denganku, tiba-tiba dadaku terasa sesak dan aku merasakan kehilangan. Untuk beberapa detik aku tidak bisa mendengar apapun yang terjadi disekelilingku. Suara tante Nina yang masih bertanya tentang Radith terasa jauh ditelingaku. Hingga akhirnya aku merasakan tanganku ditarik seseorang. Dan untuk yang kedua kalinya tante Nina menyeretku, kali ini membawaku menjahui pelaminan. Karena ternyata sudah banyak tamu yang berjejer untuk bersalaman dengan pengantin.
Akupun kembali kepintu masuk gedung, tempat penerimaan tamu. Mungkin dengan sibuk melayani tamu yang datang. Aku bisa melupakan perasaan yang aku rasakan saat ini.
* * * * *
Satu bulan telah berlalu setelah acara pernikahan bang Evan. Aku kembali disibukkan dengan urusan kantor. Sudah tiga hari berturut-turut aku pulang malam, karena banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan sebelum audit bulanan.
Untuk menghilangkan penat, aku menghabiskan sisa sore ini dengan pergi ketaman. Setelah seharian bermalas-malasan dikamar. Jarak taman ini tak jauh dari rumahku. Aku biasa ketaman ini untuk jogging diminggu pagi, atau sekedar untuk menghilangkan penat. Tak banyak pengunjung ditaman sore ini, mungkin karena cuaca yang sedikit mendung.
Aku memilih duduk dibangku dibawah pohon besar, yang entah aku tak tahu apa namanya. Aku mengeluarkan novel dari dalam tasku dan memulai membacanya. Baru satu paragraph aku membaca, samar-samar aku mendengar suara petikan gitar dan suara seseorang sedang bernyanyi.
Somebody wants you
Somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breath without you, it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That Somebody's Me
Aku menghentikan bacaanku, kupasang telinga baik-baik untuk memperjelas pendengaranku. Suara itu, lagu itu. Sepertinya aku pernah mendengarnya, tapi dimana. Apakah seorang pengamen yang biasa main disini. Tapi biasanya jarang ada pengamen sore ditaman ini, lalu siapa yang bernyanyi.
Karena penasaran aku memasukan kembali novelku kedalam tas. Lalu berdiri untuk mencari tahu siapa yang sedang bernyanyi. Aku mengikuti arah suara itu berasal. Dan menemukannya dibawah pohon ketiga tak jauh dari tempatku duduk tadi. Suaranya merdu, sedikit berat khas suara lelaki. Untuk beberapa detik aku hanya diam terpaku didepan lelaki itu. Suara dan lagu yang dinyanyikannya serasa menghipnotisku.
“Maaf, suaraku ganggu ya.” suara itu membuyarkan lamunanku. Lelaki didepanku melambaikan tangannya meminta perhatianku.
“Popeye.” entah kenapa tiba-tiba nama tokoh kartun penyuka bayam itu keluar dari mulutku. Lelaki dihadapanku pun menatapku bingung. Tapi tak lama kemudian dia tersenyum, senyum yang membuatku terpana.
“Olive, benarkah itu kau.” tanyanya dengan nada penasaran.
'Olive' nama pasangan 'Popeye' yang disebutkan lelaki dihadapanku ini. Langsung mengingatkanku pada sosok teman kecilku. Aku ingat, dulu aku pernah tinggal di Semarang selama dua tahun, saat aku masih berumur lima tahun. Dua tahun kemudian ayahku dipindah tugaskan dari kantornya ke Jakarta, dan akhirnya menetap dikota ini.
Kilasan tentang masa kecilkupun berkejaran dimemoriku. Dulu aku dan Popeye bertetangga, dia adalah satu-satunya anak yang mau bermain denganku. Disaat teman-temanku yang lain selalu mengejekku, karena badanku yang kecil cenderung kurus. Tak heran teman-teman memanggilku 'Olive', dan akupun memanggil lelaki dihadapanku ini dengan nama 'Popeye'.
Aku dan Popeye berteman baik, dia bahkan selalu melindungiku dari teman-teman yang selalu menjahiliku. Dia sangat menyanyangiku layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya. Karena memang dia tidak memiliki seorang adikpun. Akupun menyayanginya seperti sodaraku yang lain.
Lima bulan sebelum kepindahanku ke Jakarta, Popeye dan keluarganya pindah entah kemana. Dan sejak saat itu aku tidak tahu keberadaannya. Hingga saat ini, ditaman ini. Aku kermbali bertemu dengannya. Yang bahkan tak pernah aku ingat lagi kalau pernah mengenalnya.
Entah apa yang terjadi denganku. Tiba-tiba saja aku memeluk lelaki dihadapanku ini dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya. Aku menangis didekapan dada bidang lelaki ini, menumpahkan perasaan rindu yang selama ini kutahan. Dan akupun menyadari ternyata dia yang selama ini hadir dimimpiku, yang selama ini aku rindukan.
“Popeye, jangan pergi lagi.” pintaku disela isakku. Aku merasakan tangannya membalas pelukannku, dan sebelah tangannya membelai lembut punggungku. Membuatku merasa nyaman berada didekapannya.
“Aku enggak akan pergi lagi, Liv.” ujarnya. “Aku janji akan selalu nemenin kamu. Oh ya disini kamu enggak ada yang ngeledekin lagi kan. Kamu kan udah enggak 'cungkring' lagi.” kudengar Popeye terkekeh pelan. Sontak aku melepaskan diri dari pelukannya, aku memukul pelan dada bidang lelaki dihadapanku ini.
“Ih kamu tuh ya, enggak berubah. Tetep aja selalu ledekin aku.” aku mendengus kesal, dan mengerucutkan bibirku. Tanda protes yang dulu selalu aku tunjukkan didepannya bila dia mulai menggodaku.
“Kamu juga enggak berubah ya, selalu cemberut gitu kalau lagi ngambek.” balasnya sebelah tangannnya menangkap tanganku yang mencoba memukuli dada bidangnya lagi. “Tapi enggak apa-apa, Liv. Justru aku suka kalau kamu ngambek gitu, aku suka lihat muka cemberut kamu.” sebelah tangannya yang bebas terangkat untuk membelai pipiku. Dan aku merasakan wajahku mulai memanas. Matanya menatapku dengan lembut.
“Tahu enggak, Liv.” kudengar dia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. “Selama ini aku nyariin kamu. Aku cari kamu ke Semarang kerumah kamu dulu, tapi orang-orang disana bilang kamu sudah pindah. Dan mereka tidak ada yang tahu kamu pindah kemana.” matanya terlihat menerawang, dan kembali menatapku langsung kemanik mataku. “Aku selalu merindukanmu, Liv.”
“Trus kamu ngapain ada disini, memangnya kamu tinggal dimana sekarang.” Aku tak percaya ini, benarkah dia mencariku. Benarkah dia selalu merindukanku.
“Sudah setahun ini aku tinggal disini. Karena aku mendapatkan pekerjaan disini. Tapi orangtuaku masih tinggal di Pontianak.” dengan perlahan Popeye menarik tanganku untuk ikut duduk disampingnya. Akupun mengikutinya duduk disampingnya.
“Oh ya Liv, sebulan yang lalu aku ke Bandung. Menghadiri acara pernikahan temanku. Dan kau tahu, disana aku mendengar seseorang memanggil namamu, Shasta. Lalu aku ingat kamu, maka akupun memberanikan diri untuk bernyanyi diacara itu.”
“Oh ya, lagu apa.”
“Lagu yang tadi aku nyanyiin, 'Somebody's Me - Enrique Iglesias'. Lagu itu adalah ungkapan rasa rinduku kekamu, Liv.”
“Benarkah, siapa nama temanmu itu.” aku terkejut mendengar pengakuan Popeye.
“Temanku namanya Evan, memangnya kenapa. Apa kamu kenal dia.”
“Apa temanmu itu namanya Evan Pranata, dan gadis yang nikahinya namanya Manda Karina.”
“Kok kamu tahu, temanku memang namanya Evan Pranata. Tapi aku enggak tahu nama gadis yang dinikahinya siapa, aku cuma tahu namanya Manda. Kamu kenal mereka juga.”
“Ya tuhan, jadi beneran. Yang nyanyi waktu itu tuh kamu. Radithya Mahendra.”
“Jadi waktu itu, kamu juga disana. Kenapa aku enggak lihat kamu.”
“Jelas saja aku disana, Evan Pranata kan kakak sepupuku. Dan saat itu aku lagi ke toilet. Keluar dari toilet aku juga masih denger ada yang nyanyi dipanggung. Pas aku mau cari tahu, aku ditarik tante Nina.” akupun menceritakan kejadian sebulan lalu saat aku -setengah diseret- oleh tante Nina kepelaminan, tempat bang Evan bersanding dengan kak Manda.
“Kamu memang jodohku, Liv.” Popeye menangkupkan kedua tangannya kewajahku. Dan menatap mataku dalam. “Aku selalu nunggu hari ini, hari saat aku bisa bertemu lagi dengan kamu. Setelah hari ini, aku enggak mau kamu jauh lagi dari aku Liv. Maka dari itu maukah kau jadi seseorang yang selalu membukakan pintu rumahku, dan yang selalu menungguku pulang kerja. Maukah jadi ibu dari anak-anakku kelak. Will you marry me.” aku terpaku mendengar empat kata terakhir yang diucapkannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Liv, kamu dengerin aku kan.”
“Aku juga selalu nunggu hari ini, hari dimana aku bisa bertemu kamu lagi. Aku juga selalu merindukanmu.” akhirnya aku juga punya kesempatan untuk mengungkapkan rinduku pada Popeye.
“Jadi.”
“Apanya?” jawabku bingung.
“Will you marry me.” sekali lagi Popeye mengucapkan permintaannya.
“Aku, aku enggak tahu harus menjawab apa.” aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Dalam hati aku juga menginginkan Popeye selalau ada sampingku, tapi aku teringat ucapan bang Evan.“Sayang sekali ma, Radith sudah mencintai gadis lain.” dan itu membuatku merasa tidak bisa menerima lamaran Popeye.
“Sebelum aku jawab pertanyaan kamu, boleh aku tanya sesuatu.” aku ragu untuk menyakannya langsung, tapi aku harus tahu.
“Kamu mau tanya apa.”
“Benarkah kamu menginginkanku, bang Evan bilang kamu mencintai gadis lain.” Popeye tampak terkejut dengan pertanyaanku. Tapi tak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Aku hanya termangu melihatnya tertawa. Apanya yang lucu, aku kan hanya memastikan ketakutanku.
“Jadi Evan bilang gitu, dan kamu percaya.” ujarnya disela tawanya.
“Entahlah, aku kan enggak tahu kalau yang dimaksud Radith waktu itu adalah kamu.”
“Oke kalau kamu enggak percaya, kamu lihat ini.” Popeye mengeluarkan selembar fhoto dari dalam dompetnya. Dan aku terkejut saat mengenali fhoto itu.
“Ini, ini kan kita waktu kecil. Kamu masih nyimpen fhoto ini.”
“Iya dong, aku juga nyimpen kamu disini.” Popeye menunjuk dadanya. “Dan kalau kamu mau tahu gadis yang aku cintai yaitu kamu, Liv.” tanpa aku sadari sesuatu yang hangat menyentuh keningku. Popeye mencium keningku dengan lembut. “Dan kamu juga harus ingat Liv, aku tidak suka penolakan. Besok aku akan menelpon orangtuaku supaya datang kerumahmu, untuk melamarmu untukku.” senyum manis Popeye terkembang diwajahnya, jarak wajahnya dengan wajahku hanya beberapa inci saja. Hingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat.
“Aku, aku juga menginginkanmu.”
“oke jadi sekarang kamu resmi jadi calon istriku. Popeye memang jodohnya Olive.” sekali lagi aku merasakan hangatnya pelukan lelaki dihadapanku ini. Dan dia mengecup puncak kepalaku.
Akhirnya mimpi-mimpi tentang lelaki misterius itu terjawab sudah. Orang yang selalu kurindukan ternyata memang seseorang dimasalalaku, tapi kini akan menjadi seseorang dimasa depanku. Dan aku bahagia, Popeye memang jodohnya Olive.
* * * END * * *
* Somebody's Me – Enrique Iglesias
Tidak ada komentar:
Posting Komentar